Rabu, 10 April 2013

Perkembangan Agama Dan Kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia

1. Agama Hindu
   Agama Hindu sebenarnya merupakan sinkretisme (pencampuran) antara kepercayaan bangsa Arya dengan kepercayaan bangsa Dravida. Sifatnya Polytheisme; yaitu percaya terhadap banyak dewa. Tiap-tiap dewa merupakan lambang kekuatan terhadap alam, sehingga perlu disembah atau dipuja dan dihormati. Beberapa dewa yang terkenal seperti Prativi sebagai Dewa Bumi, Surya sebagai Dewa Matahari, Vayu sebagai Dewa Angin, Varuna sebagai Dewa Laut, Agni sebagai Dewa Api.
   Dalam agama Hindu diajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu penderitaan atau kesengsaraan (samsara), akibat perbuatan (karma) yang kurang baik pada masa sebelumnya. Manusia yang dilahirkan kembali (reinkarnasi) memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri, sehingga pada kelahirannya nanti dapat dilahirkan dalam kasta yang lebih tinggi. Sebaliknya jika berbuat jahat ia akan dilahirkan kembali dalam kasta yang lebih rendah atau dilahirkan dalam kasta yang lebih rendah atau dilahirkan menjadi binatang.
  Seseorang yang telah sempurna hidupnya dapat mencapai Moksa, yaitu lepas dari samsara, atau meninggal tanpa meninggalkan jasmaninya. mereka yang telah mencapai moksa, tidak dilahirkan kembali , tetapi tinggal abadi di Nirwana (surga). dalam hal ini ajaran Hindu bersifat pesimis, karena menyatakan bahwa hidup berarti menderita dan bukan menikmati isi dunia.
   Sekitar abad ke-6 SM, agama Hindu mengalami kemunduran, yang disebabkan oleh 2faktor. Pertama, karena kaum Brahmana yang memonopoli upacara keagamaan, membuat sebagian dari mereka bertindak sewenang-wenang, seperti memastikan banyaknya korban yang harus diberikan oleh seseorang, sehingga menimbulkan beban berat bagi rakyat kecil. Mereka merasa sangat berkuasa atas segala-galanya, karena kastanya merupakan kasta yang tertinggi. hal-hal seperti itu dapat menimbulkan rasa anti agama. Kedua, timbulnya golongan yang berusaha mencari jalan sendiri untuk mencapai hidup abadi yang sejati. Golongan ini disebut golongan Buddha yang dihimpun oleh Sidharta.

2. Agama Buddha
    Agama Buddha diajarkan oleh Sidharta, putra Raja Sudodhana dari Kerajaan Kapilawastu. Sidharta berarti orang yang mencapai tujuannya, ia juga disebut Buddha Gautama yang berarti orang yang menerima Bodhi, atau juga disebut Cakyamuni yang berarti orang bijak dari keturunan suku bangsa Cakya.
     Peristiwa kelahiran, menerima penerangan agung, dan kematiannya terjadi pada tanggal yang bersamaan, yaitu waktu bulan purnama dalam bulan Mei. Ketiga peristiwa tersebut dirayakan oleh umat Buddha sebagai hari Waisak, sedangkan pada keempat tempat suci itu diberi tanda oleh Kaisar Ashoka berupa tiang-tiang (lebih dikenal dengan sebutan tugu Ashoka). sebagai lambang kelahiran Buddha berupa bunga seroja, pohon Pippala atau Bodhi sebagai lambang mulai memberikan ajaran, dan Stupa sebagai lambang kematiannya.
      Dengan semikian, ajaran agama Buddha tidak terlau jauh berbeda dengan ajaran agama Hindu. Namun demikian, ajaran agama Buddha memiliki beberapa ajaran baru, seperti tidak dibenarkan mengadakan korban dan tidak dibenarkan mengenal tingkatan atau kasta dalam masyarakat.
    Seorang yang mau masuk agama Buddha diwajibkan mengucapkan Tridharma; yang berarti tiga kewajiban, yaitu:
  • Saya mencari perlindungan pada Buddha
  • Saya mencari perlindungan pada Dharma
  • Saya mencari perlindungan pada Sanggha
      Buddha adalah Sidharta yang telah dianggap sebagai dewa sedangkan Dharma adalah  kewajiban yang harus ditaati oleh umat Buddha dan Sanggha adalah aturan atau perkumpulan dalam agama Buddha. Buddha, Dharma, dan Sanggha merupakan Triatna yang berarti tiga mutiara.
   Dalam perkembangan selanjutnya, agama Buddha mengalami perpecahan karena masing-masing mempunyai pandangan atau aliran sendiri. Agama Buddha terpecah menjadi aliran Hinayana dan Mahayana. Hinayana berarti kendaraan kecil. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang wajib berusaha sendiri untuk mencapai nirwana. Ajarannya lebih mendekati ajaran yang pernah diajarkan sang Buddha. Agama Buddha beraliran Hinayana memiliki perngikut pada daerah-daerah seperti Srilanka, Myanmar, Thailand.
     Sedangkan Mahayana berarti kendaran besar. Aliran ini berpendapat bahwa sebaiknya manusia berusaha bersama atau membantu orang lain dalam mencapai nirwana. Ajarannya merupakan hasil perkembangan atau kelanjutan dari ajaran Sang Buddha. Pengikut atau pemeluk agama Buddha beraliran Mahayana banyak terdapat di Indonesia, Jepang, Cina, dan Tibet.
      Kitab suci Agama Buddha adalah Tripitaka, artinya tiga keranjang atau wadah. Bagian-bagian dari Tripitaka, yaitu:

  • Vinayapitaka, yang berisi aturan-aturan kehidupan.
  • Suttapitaka, berisi dasar-dasar dalam memberikan pelajaran.
  • Abdidharmapitaka, berisi tentang falsafah agama.
    Agama Buddha pernah berpengaruh besar di India, yaitu oada zaman pemerintahan Raja Ashoka, bahkan menjadi agama negara. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya di India, pengikut agama Buddha semakin berkurang. Hal ini disebabkan, Pertama, setelah kaisar Ashoka meninggal (232 SM), tidak ada raja-raja yang mau melindungi dan mengembangkan agama Buddha di India. Kedua, agama hindu berusaha memperbaiki kelemahan-kelemahannya, sehingga pengikut-pengikutnya banyak yang kembali.

3.  Kebudayaan
    Kebudayaan masyarakat India terus mengalami perkembangan dan kemajuan, terutama pada bidang kesenian, seperti seni pahat dan seni patung. Kuil-kuil yang megah dan indah dibangun pada kota-kota penting di India. Kesusastraan mengalami masa-masa yang cukup gemilang, baik dalam kesusastraan Hindu maupun Buddha.
      Peradaban India, khususnya lembah sungai Gangga menghasilkan 2 agama besar, yaitu agama Hindu dan Buddha. Kitab-kitab sucinya adalah Weda (agama Hindu) dan Tripitaka (agama Buddha), kedua kitab suci itu merupakan hasil karya sastra yang banyak dibaca oleh para penganutnya.
      Di samping itu, terdapat kitab Brahmana dan kitab Upanisad yang merupakan kitab agama yang mempunyai nilai sastra tinggi. terdapat juga kitab-kitab yang berisi cerita-cerita tentang kepahlawanan atau Wiracarita (epos). Wiracarita atau epos ini berisi ajaran-ajaran tentang moral kepada bangsa Hindu, serta memiliki nilai sastra yang tinggi. Di antaranya yang terkenal adalah epos Mahabharata dan Ramayana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar